Category Archives: Aktivitas

Pengalaman Internship di Belanda

Category : Akademis , Aktivitas

Melanjutkan studi ke luar negeri masih menjadi primadona bagi mahasiswa-mahasiswa dari Indonesia. Memperluas jaringan, menambah pengalaman dan mencari tantangan baru di luar zona nyaman menjadi alasan banyak dari mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Tak jarang, dalam prosesnya mahasiswa-mahasiswa di universitas luar negeri perlu melakukan magang atau internship sebagai bagian dari kurikulum program studi yang mereka dalami. Program magang biasa dilakukan dalam jangka waktu tertentu dan tujuan tertentu. Pada kesempatan ini, kita akan coba mendiskusikan perihal magang di negeri van oranje, Belanda.
Kewajiban melakukan magang sendiri biasanya tergantung dengan program studi yang kita jalani. Beberapa program di Utrecht sebagai contoh, mewajibkan setiap mahasiswanya untuk melakukan magang minimal dua kali selama masa studi. Ada pula program studi yang tidak mewajibkan mahasiswa program studi tersebut untuk melakukan magang. Bahkan ada beberapa program studi yang tidak memasukkan program magang kedalam kurikulum mereka. Jadi, program magang bergantung pada program studi yang akan kita ambil dan akan berpengaruh pada rencana studi kita. Program magang juga dapat digabungkan dengan thesis atau tugas akhir dan biasanya diakhir program kita diwajibkan untuk menyampaikan sebuah presentasi.
Di Belanda, beberapa perusahaan baik swasta ataupun pemerintah biasanya memiliki program kurikulum magang dan anggaran untuk tunjangan atau gaji. Beberapa perusahaan biasanya menugaskan karyawan magang untuk mengambil peran di perusahaan tersebut berdasarkan kurikulum magang di perusahaan tersebut dan divisi yang ditekuni. Selain itu, beberapa perusahaan khususnya perusahaan swasta biasanya memberikan tunjangan atau gaji kepada karyawan magang. Besaran gaji tersebut bervariasi biasanya berada di kisaran 350 euro hingga 1000 euro tergantung jenis pekerjaan, jam kerja, dan perusahaannya sendiri. Namun, apabila kita sebagai mahasiswa menerima gaji sebagai intern, kita wajib mengganti program asuransi jikalau kita menggunakan asuransi mahasiswa. Karena terdapat aturan khusus dari pemerintah Belanda bagi karyawan yang memiliki gaji wajib menggunakan asuransi untuk pegawai/pekerja di Belanda.
Periode waktu untuk magang di Belanda sangat bervariasi tergantung perusahaan, program studi di Universitas, dan tujuan magang itu sendiri. Beberapa perusahaan memiliki ketentuan bahwa program magang bisa dilakukan dalam jangka waktu antara tiga hingga enam bulan. Periode tersebut ditentukan oleh lama waktu ekspektasi project yang akan dikerjakan selama masa periode magang dan juga kredit perkuliahan (ECTS). Bahkan jika di kurikulum program studi memungkinkan untuk mengkombinasikan magang dan thesis, biasanya kita diperbolehkan untuk magang sepanjang sembilan bulan atau 45 kredit ECTS. Jadi periode magang sangat bervariasi dan memiliki jangka waktu yang berbeda bagi setiap jurusannya.
Dalam masa pencarian dan persiapan untuk magang, di Universitas Utrecht sendiri, mereka menyediakan kolom atau pool daftar perusahaan yang menawarkan program magang saat itu. Berikut link untuk mencari program magang yang tersedia berdasarkan database universitas https://students.uu.nl/en/academics/internships. Bagi mahasiswa yang ingin melakukan program magang diperbolehkan pula untuk mencari lowongan magang secara mandiri. Namun, khusus lowongan magang tersebut perlu diketahui dan disetujui oleh koordinator program magang masing-masing program studi. Sebagai mahasiswa kita pun diperbolehkan untuk mengambil program magang di luar negeri selain Belanda. Semua informasi dan prosedur untuk menempuh program magang lengkap dan terarsip rapih di website tersebut.
Pengalaman saya sendiri selama menjalani program magang untuk thesis di NIOZ sangat menyenangkan dan cukup menantang. Mulai dari lokasi kantor NIOZ yang berada jauh dari keramaian yaitu di Yerseke Zeeland dan juga suasana kantor yang sangat supportive. Di sini, setiap minggu kami memiliki program rapat dan diskusi untuk membahas progress penelitian yang sedang kami kerjakan. Dalam setiap pertemuannya seringkali kami mendapatkan feedback yang positif dan membangun sehingga proses penelitian dapat berjalan ke arah yang diinginkan.

Suasana kerja di ruangan Saya

NIOZ merupakan suatu institusi penelitian pemerintah di Belanda yang bergerak di bidang kelautan. Banyak penelitian yang dilakukan di sini berkaitan dengan perikanan, kelautan, dan biota laut lainnya. Sedangkan saya sendiri di sini melakukan penelitian mengenai model ekosistem tanah basah yang diimplementasikan di tanah kering. Para peneliti di NIOZ merupakan praktisi dan akademisi yang beraffiliasi dengan beberapa Universitas seperti Universitas Utrecht dan Universitas Groningen. Jadi seringkali beberapa peneliti senior di sini diminta untuk mengajar atau memberikan kuliah umum di Universitas tersebut.
Suasana di luar kerja di sini pun cukup nyaman. Karena kantor kami berada di sebuah kota kecil di Zeeland, banyak dari kami mahasiswa intern dan mahasiswa PhD maupun Postdoc tinggal bersama di guest house milik NIOZ. Suasana di sana cukup nyaman dan menyenangkan, karena selain diskusi mengenai pekerjaan atau penelitian, kami pun bisa mendiskusikan hal-hal yang lebih non-formal. Kami pun biasanya mengadakan olahraga bersama seperti bermain bola dan berenang di muara Oosterschelde. Jika cuaca sedang sangat bersahabat, kami pun biasanya pergi ke pantai sekitar kota untuk sekedar berenang dan bermain bola.

Suasana di lapangan bola tempat kami biasa bermain

Sekian penjelasan mengenai program magang dan pengalaman saya selama menjalani magang di NIOZ. Banyak sekali kesempatan yang bisa didapatkan saat menjalani studi di luar negeri. Program magang merupakan salah satu jalan untuk mendapatkan pengalaman dunia kerja. Tidak dapat dipungkiri pula, dengan mengikuti program magang, pengetahuan dan peluang kita dalam mendapatkan pekerjaan di Belanda menjadi lebih terbuka. Dengan demikian menjalani program magang di luar negeri merupakan kesempatan yang sangat berharga untuk di masa depan.

Suasana teluk yang terkoneksi ke laut di samping kantor NIOZ

Suasana pantai di kota Wemeldinge, 5 km dari Yerseke

BONUS: Penampakan sunset dari pantai di Yerseke


Oleh: Tri Juliansyah Muharam Sambas


Chef Wannabe PPIU: Belajar Memasak Tanpa Stress

Category : Hiburan

PPI Utrecht kali ini mengadakan program terobosan yang bernama Chef Wannabe. Acara ini diadakan sebagai ajang untuk berkumpul sesama anggota PPIU khususnya bagi yang berminat memasak. Hingga Agustus 2018, Chef Wannabe sudah diadakan dua kali. Pertama kalinya diadakan di Rumah Mbak Ari Susanti di Zeist, Chef Wannabe waktu itu bertemakan memasak Soto Ayam Lamongan.

Chef Wannabe yang kedua kali ini diadakan di rumah Mas Ahmy – Mbak Putri di Leidsche Rijn, Utrecht. Dengan tema memasak es pisang ijo dan coto makassar, acara ini sukses diadakan dengan peserta 7 orang. Bahan-bahan beberapa telah disediakan oleh Mas Aris sebagai penanggung jawab acara seperti daging, bawang, tepung, sirup, dan bumbu-bumbu.

Ternyata proses pembuatan es pisang ijo tidak semudah dan secepat menghabiskannya. Dimulai dari membuat kulit hijaunya yang harus digiling dengan halus dan hati-hati. Proses pembuatanya ibarat bermain tanah liat atau istilah anak jaman sekarang: “play-doh” (maaf bukan iklan). Sulitnya membuat lapisan kulit ini menjadikan para peserta sadar perjuangan para abang tukang es pisang ijo ternyata tidak mudah. Sedangkan sebagian lain yang tidak ikut menggiling, menyicil membuat kuah santannya.

Sedangkan untuk coto makassar, proses pembuatannya tidak terlalu sulit. Dipimpin oleh Mbak Ari sebagai Master Chef, para peserta saling berbagi tugas. Tim pria bertugas mengiris daging dan bawang, sedang tim wanita menyiapkan racikan bumbu untuk kuahnya beserta alat masak. Walaupun tidak terlalu rumit, proses pembuatan coto makassar ini cukup lama karena daging harus direbus sampai empuk dan kuahnya benar-benar kental.

Mas Lukman sudah seperti chef profesional belum ya?

Rame-rame membuat kulit pisang ijo

Coto Makassar yang siap disantap. Yummy!

Setelah menghabiskan waktu selama 2 jam memasak, akhirnya voila jadi juga masakannya dan siap disantap. Alhamdulillah, lekker! Walaupun tidak seenak dan seautentik kalau beli di abang-abang gerobak, tapi hasil karya Chef Wannabe kali ini cukup mengobati rasa kangen akan masakan Indonesia.

Acara Chef Wannabe kali ini pun spesial karena dibarengi dengan Nonton Bareng (Nobar) Final Piala Dunia Perancis VS Kroasia. Seru sekali selain semakin ramai, nuansa kekeluargaan sangat terasa sembari menikmati hasil masakan para peserta Chef Wannabe. Perut kenyang, hati senang!
 

Oleh: Zulfika Kusharsanto


Komunitas Angklung Utrecht

Category : Kebudayaan

Berada jauh dari tanah air ternyata tidak menyurutkan semangat mahasiswa Indonesia di Utrecht untuk mempelajari budaya tradisional Indonesia. Salah satu kebudayaan tersebut adalah instrumen Angklung yang merupakan instrumen tradisional dari tanah Sunda.

Ide awal untuk membentuk komunitas ini dimulai dari adanya keinginan untuk memberdayakan alat musik yang terbuat dari bambu ini yang telah lama idle di Utrecht (awalnya dimainkan para mahasiswa Indonesia di Eindhoven). Salah satu pengajarnya yang dulu pernah menempuh studi di Eindhoven kemudian menginisiasi untuk membentuk Komunitas Angklung jika mahasiswa Indonesia di Utrecht berminat. Setelah diumumkan oleh Ketua PPI, Tri Juliansyah, di grup anggota PPI Utrecht, ternyata banyak yang merespon positif ajakan tersebut. Komunitas Angklung di Utrecht akhirnya terbentuk yang langsung dimulai dengan pertemuan dan latihan perdana pada bulan Februari 2018.

Saat ini Komunitas Angklung Utrecht telah beranggotakan 23 orang. Terdapat dua pelatih handal yang dengan senang hati mengajarkan cara bermain angklung yaitu Mbak Ida dan Mbak Dea. Latihan rutin sendiri diadakan di Gedung SGB setiap Sabtu siang, namun seringkali masih disesuaikan dengan jadwal para anggota.

Hingga saat ini, para anggota Komunitas Angklung telah mempelajari lagu-lagu yang menarik mulai dari lagu daerah hingga lagu internasional popular seperti: Burung Kakatua, Yamko Rambe Yamko, Edelweiss, dan Solemio. Ternyata memainkan angklung tidak semudah yang dibayangkan karena kekompakan dan harmonisasi antaranggota harus diatur sedemikian rupa agar menghasilkan lagu yang enak didengar. Nah, bagi teman-teman anggota PPI Utrecht yang berminat, jangan ragu untuk ikut kegiatan ini! Semakin banyak pemainnya, maka permainan angklung semakin menarik.

Suasana salah satu sesi latihan

Mbak Ida sang pelatih


Band PPIU Tampil Perdana di Den Haag

Category : Hiburan

Pada tanggal 7 Juli 2018, Band PPIU yang bernama Band-It untuk pertama kalinya menunjukkan aksinya di acara Indonesische Bazaar Wonderful Indonesia di Den Haag. Acara yang bertujuan mempromosikan budaya Indonesia di Belanda tersebut diadakan oleh Gereja Kristen Indonesia-Nederland (GKIN) Regio Rijswijk Den Haag.

Personil Band-It

Personil Band-It

Band-It kali ini beranggotakan 7 personil yaitu (pada gambar dari kiri atas, searah jarum jam) Akbar (bass), Dally (vokal), Iko (keyboard), Goi (drum), Vika (vokal), Shirley (vokal), dan Hanif (gitar). Mereka membawakan 8 lagu mulai dari Dia oleh Maliq and D’essentials, Orang Ketiga oleh Hivi!, sampai lagu-lagu lawas seperti Berita Kepada Kawan oleh Ebiet G Ade.

Walaupun ini merupakan penampilan perdana dari Band-It, ternyata mereka mendapat respon yang sangat antusias dari para penonton. Hal ini terlihat dari para penonton yang ikut bernyanyi bersama dan bersorak mengikuti iringan musik. Vika, Dally, dan Shirley sukses membawakan lagu secara interaktif.

Vokalis Band-It yang interaktif dan tampil menggemaskan

Vokalis Band-It yang interaktif dan tampil menggemaskan

Bersama para fans dan panitia acara

Bersama para suporter dan panitia acara

Awalnya Band-It ini terbentuk dari minat para mahasiswa Utrecht yang begitu tinggi pada musik. Pengurus PPIU tahun ini (2017/2018) kemudian mencetuskan sebuah ide untuk membentuk band yang dapat bermanfaat untuk mengisi hiburan di kegiatan-kegiatan PPIU ke depannya. Akhirnya dibentuklah Band-It ini pada bulan Maret 2018 yang beranggotakan total 10 orang.

Untuk mengasah kemampuan bermusik para personil band PPIU, mereka mengadakan latihan rutin sebulan 2x di sebuah studio music di daerah Zuilen. Latihan biasanya diadakan setiap hari Sabtu selama 2 jam.

Diharapkan untuk tahun-tahun berikutnya minat bermusik mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di Utrecht tetap tinggi dan semakin berkembang. Bagi kamu mahasiswa Utrecht yang berminat di bidang musik, silakan jangan sungkan untuk bergabung!

Oleh: Gloria Berlian Minanga Mangiri



Kegiatan Sosial “CELENGAN PPI UTRECHT” Periode 1

Category : Sosial

Celengan PPI Utrecht adalah kegiatan yang diinisiasi oleh pengurus Divisi Sosial Perhimpunan Pelajar Indonesia di Utrecht (PPIU) periode 2016-2017. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mewadahi rasa empati dan kepedulian para mahasiswa Indonesia di Belanda terhadap sesama yang membutuhkan. Ada dua tipe pelaksanaan kegiatan: 1) Celengan disebarkan kepada anggota PPIU. Setiap rumah yang ditinggali oleh anggota PPIU akan mendapatkan satu celengan untuk kemudian diisi dengan koin-koin sesuai keikhlasan masing-masing; 2) Satu celengan diberikan kepada masing-masing PPI-PPI Kota se Belanda. Setelah periode yang ditentukan, celengan kemudian dikumpulkan kembali untuk selanjutnya disalurkan kepada pihak yang membutuhkan. Pada laporan ini, akan dijelaskan pelaksanaan kegiatan pertama.

Pada awal kepengurusan, kegiatan ini direncanakan untuk dilaksanakan sebanyak 3 kali selama masa kepengurusan. Dalam pelaksanaannya, karena keterbatasan sumberdaya, kegiatan ini hanya bisa terlaksana 2 kali. Pengurus juga memutuskan bahwa untuk penyaluran hasil pengumpulan dana, akan lebih difokuskan bantuan kepada anak-anak didaerah perbatasan dan daerah konflik.

Untuk periode 1, celengan mulai disebarkan pada akhir bulan Februari 2017. Tercatat sebanyak 16 celengan berhasil disebarkan. Setelah 3 bulan, celengan dikumpulkan kembali. Pada periode ini, celengan yang dikumpulkan adalah celengan dilingkup anggota PPIU saja. Tercatat sebanyak 363.36 euro dana yang berhasil dikumpulkan. Dana ini kemudian disalurkan kepada 3 pihak independent yang sedang menginisiasi pendirian rumah baca untuk anak-anak dibeberapa daerah terpencil di Indonesia. Pihak-pihak tersebut adalah:

  1. Rumah baca di Kepulauan Letti, perbatasan Maluku Barat Daya, diinisiasi oleh tim Nusantara Sehat yang bertugas disana.
  2. Buku untuk anak-anak di kampung Yepem Papua, diinisiasi oleh Forum Komunikasi pelajar mahasiswi Tarakan.
  3. Ruang baca SDN BK Gimpu, Palu, Sulawesi Tengah, diinisiasi oleh komunitas Sahabat Indonesia Berbagi Palu.

Setelah periode 1, celengan kemudian disebarkan kembali untuk periode 2. Ditargetkan, semua celengan dari anggota PPIU dan PPI Kota akan dikumpulkan kembali pada akhir bulan September untuk kemudian disalurkan kepada anak-anak yang berada di daerah konflik.

SIGI PALU

Tim Nusantara Sehat di Kepulauan Letti, Maluku Barat Daya

Sumber: Instagram @shintagany

 

Forum Komunikasi Pelajar Mahasiswi Tarakan

Sumber: Instagram @fkpmt_tsc

 

 

Oleh: Nur Rahmah S


UID 2017: Invitation for Children to Participate in Drawing Competition

Category : Kebudayaan

Invitation

For PDF and Dutch version  click here.

Dear children, dear teachers

Please accept our invitation to participate in the drawing and coloring competition of Utrecht Indonesian Day (UID) 2017. During the last three years of the events, Utrecht Indonesian Day (UID) becomes a symbol of a cultural event that provides the chance to maintain and strengthen the unique bond among Indonesian diaspora and the local community in the Netherlands. The celebration of UID had consistently highlighted the various aspect of the assimilation between the two nations. This attempt attracted a lot of attentions and supports of around 400 visitors each year.

This year, Indonesian Students’ Association in Utrecht (PPI Utrecht) determines to bring back the excitement of UID with a distinct theme of ‘Indonesian traditional games.’ It is expected that UID 2017 can be used by the modern families, either Indonesian, Dutch, mixed, or others, to introduce the traditional games that start to extinct despite its precious norm and educational values. We believe that UID 2017 will be the best event that provides the experience for everyone to observe, involve, and enjoy the Indonesian culture, especially the merriness of its traditional games.

Hoping you will find an inspiration in this year’s theme, we are looking forward to your entries.

Theme

The theme of Utrecht Indonesian day 2017 is INDONESIAN TRADITIONAL GAME

Competition and Eligibility Condition

I. CATEGORY A: Coloring Competition for 4-7 year old

1. Eligible for children within age 4-7 year old
2. Choosing one from the pictures below:
Picture A.1 (link download)
Picture A.2 (link download)
Picture A.3 (link download)
3. Paper size: A4,  80 – 100 gsm
4. Free to use any coloring tools

II. CATEGORY B: Coloring Competition for 7-10 year old

1. Eligible for children within age 7-10 year old
2. Choosing one from the below pictures:
Picture B.1 (link download)
Picture B.2 (link download)
Picture B.3 (link download)
3. Paper size: A4, 80 – 100 gsm
4. Free to use any coloring tools

III. CATEGORY C: Drawing Competition for 10-15 year old

1. Eligible for children within age 10-15 year old
2. Theme: traditional game
3. Paper size: A4, 80 – 100 gsm
4. Free to use any drawing and coloring tools

Labelling of Artworks

To label competing artworks, please, use the attached WORK IDENTIFICATION Label (see below). Each work must have the following information on the back side:
a. Coloring/drawing category (A/B/C).
b. Surname and name  of the child/participant  (give them in the following order: 1 surname, 2 name).
c. Age.
d. Name and full address of the school or organization responsible for sending the work (name of the school, street, postcode, city, country). Information on awards will be sent to this address later.
e. E-mail address of the organization to be used for communication on the exhibition – please, indicate the website of the school, the current e-mail address of the school or organization and an e-mail address of the art teacher(s) responsible for sending in the works so that they could be informed on the competition.
f. If a child participate as an individual, indicate their name, age and home address, including an e-mail for communication (of a parent of theirs).

Label for participant managed by school or organisation:

Label for individual participant:

Assessment

  • All of the drawing and coloring result will be judged by juries with criteria:
    1. Color composition (20%)
    2. Beauty/ artistry (30 %)
    3. Tidiness (30 %)
    4. Coloring/drawing technique (20 %)
  • The top 10 of each category will exhibit on 10th of September start from 11.00-14.30
  • The visitor will vote for the top three winners and will be announced around 14.45

Important Dates:

Opening competition: 10 August 2017 – 2 September 2017

Selection by judges: 2 September 2017 – 9 September 2017

Exhibition of top-10: 10 September 2017 (ZIMIHC Theater Stefanus 2 Braziliëdreef, 3563 CK Utrecht) start from 11.00-14.30, followed with announcement of the winner at 14.45 pm

Awards:

  1. Trophy for top three winners
  2. Gift package for top three winners
  3. Certificate for top three, top ten and all participants

Please send your entries to the following address:

Stichting Generasi Baru (De Bazelstraat 31, 3555 CR Utrecht, Netherlands)

(Attention: at the latest 2 September 2017)

Contact Details:

Febru    : +31682679148

Email    : ppi.utrecht@gmail.com


UID 2017: Culinary Bazaar

Category : Kebudayaan

There are four food stands that will fulfill your gastronomy of Indonesian foods, e.g:

1. Pempek Elysha
Pempek Elysha is a restaurant which served Indonesian cuisine in Den Haag. As its name, the speciality of this restaurant is Pempek Palembang. Address: Bruijnings Ingenhoeslaan 124, 2273 KT Voorburg. Contact: 070 201 5750.

Pempek with its signature sauce.

2. Lapek Jo
Lapek Jo is a professional Indonesian food vendor which can be found in several Indonesian cultural events. Sate Padang is the most famous menu from Lapek Jo.  The speciality of Lapek Jo is Padang cuisine. Address: Jan Wapstraat 172, 2523 GM Den Haag. Contact: 062 692 3145.

Full dish of Nasi Padang.

3. Coto Makassar Ida
Farida Sinrang is one of a regular vendor of Utrecht Indonesian Day. This year, Coto Makassar is her special menu for UID 2017. Who doesn’t love Coto Makassar! Based in Overvecht, Utrecht. Contact: 061 123 0241.

The one and only Coto Makassar.

4. Annisa Utrecht
Annisa is Indonesian women group in Overvecht, Utrecht. This year, Annisa participates in UID 2017 with its various Indonesian traditional snacks.  Don’t miss the special cendol ice and pandan cake from Annisa! Contact: 062 815 6566.

Many variety of Kue Basah (snack).

5. Waroeng Indomie
Who doesn’t know Indomie? Indomie is the most delicious instant noodle out there. And the best thing is you can buy your Indomie at UID 2017!

Variety of Indomie flavour.

 

PS: Don’t forget to bring your cash!
Have you already decided what you want to buy? You can check the full menu and order it online here.
We reserve it for you! 🙂


UID 2017: Traditional Games Exhibition

Category : Kebudayaan

Exhibition consists of two parts. First is the exhibition of the top 10 of drawing and coloring competition. There are three categories of competition, the 4-7 years old, the 7-10 years old and the 10-15 years old. Here visitors will have chance to choose their most favorite drawing, and the most voted will serve as the winner of the competition. The announcement of the result will be around 14.45 during the workshop. For more information about the drawing and coloring competition, please see here (link to competition).
Second is the exhibition of Indonesian traditional games. It will show the history and how to play several traditional games such as yoyo, gasing, gundu, bekel, and congklak.

1. Yoyo
Yoyo is a famous international games which also played by Indonesian kids. It is believed that yoyo brought and introduced by Chinese people in Indonesia. The traditional form of yoyo is made of wood and usually sell in front of elementary school yard. Nowadays, the modern form of yoyo is made of steel and with many variation of style to play it.
How to play yoyo it’s very easy. Just follow this video and at least you will be an amateur yoyo player:

2. Gasing
This game is normally played by boys. The gangsing is a top made from bamboo with a small opening on the side. This small hole makes the top whistle very distinctively as it Gangsingspins. The size of the hole determines the pitch of the whistle. String is wound around the dowel that goes through the center of the gangsing . The child then holds onto the flat bamboo handle that is tied to the end of the string and pulls this handle to set the gangsing spinning. Normally a circle is drawn on the ground about 50 cm. in diameter. Two children play against each other. The object of the game is to try and knock your opponents gangsing out of the designated circle. Gangsing are commonly sold outside the temples and tourist attractions in Yogyakarta, Central Java.

If you play with your friends or in a competition, the winner is the one who can stay spin longer. Curious? See below video for Indonesian gasing!

Children play gasing (Source: http://bit.ly/2uFqKcg)

3. Gundu
Gundu is one of the most popular Indonesia traditional games played all over the Indonesia, it is also called as kanchey in North India and Marbles in English. This game is considered as one of the street game and is banned by many parents nowadays. This game increases the aim and concentration skills. The way to play this game is by holding tautly in the forefinger of the left hand. Then the finger is stretched back like a bow-string by the pressure of the forefinger of the right hand, then the gundu is immediately shooted by releasing the finger. Remember, while pushing the gundu, the left thumb should firmly touch the ground. Follow this movie to be a good shooter!

4. Bekel
This is the equivalent of western jacks, and is commonly played by Indonesian girls. The shape of the bekel differs from the western jacks in that they are flat with a small bridge holding the two sides together. On the upper side of the biji bekel there is a small red dot that is called the pit. The under side of the bekel is called a roh. On one of the flat sides of the biji bekel there are small indentations or dots and the other side is smooth.

The game is played is a similar method to jacks, but with a few differences. When the game is started, the biji bekel are all held in the hand of the player and are dropped as the ball is allowed to bounce one time. The player then starts to play by attempting to pick up the biji bekel one at a time without disturbing any of the other biji bekel within the time that it takes the ball to bounce once.

If the player successfully has picked up all of the bekel, he then drops them again and starts the second set of the game. In this set he must attempt to position the biji bekel with the pit facing up again one at a time. This action must be completed while the player throws the ball in the air and allows it to bounce one time. The player must attempt to turn over the bekel without moving any of the other bekel.

If the player completes this successfully, he then picks up the biji bekel one at a time while throwing the ball in the air until he has all of the biji bekel in his hand. He then drops them all again and now picks the biji bekel up two at a time and then three at a time, etc. until he picks up all the biji bekel with one sweep of the hand.

He drops them again and now starts the roh set. The player must attempt to turn over all the biji bekel so the roh side is now facing up. It is permitted to pick up more than one group of the set number while the ball is being thrown in the air. For example if the player is picking up groups of two while the ball is being thrown in the air, he may grab three groups of two bekel. The action of grabbing a set number of bekel is called cek.

If the player moves any of the biji bekel that he is not attempting to pick up, or if he drops any of the biji bekel in his hand, he loses his turn and it goes to the next player. A skilled player can go through many sets of the game before he makes a mistake and has to turn the bekel over to the next player. The player that completes the most sets without making a mistake is considered the winner of the game.

The name is derived from the Dutch game”bikkelen” using the same copper “bikkels”.

5. Congklak
Congklak has its origins in either Africa or the Arab world, depending on which scholar’s theory you choose to believe. Some of the oldest evidence was found in National Geographic-sponsored archaeological diggings dating back to 7,000 to 5,000 BC in present-day Jordan. Even within Indonesia, Congklak is known by different names from region to region. The most common name, Congklak, is taken from the cowrie shell, which is commonly used to play the game. This game consist of two items, namely playing board and playing pieces. The playing board is made from wood, with variations from island to island in the number of holes on each side, either 5, 6, 7 or 9 holes. All the boards have two ‘store house’ holes, one on each end. The design varies from simple, unadorned woods, to boat-shaped boards, to highly decorated playing boards. Whilst stones, seeds and shells are used as pieces for the game.

Congklak (Source: http://www.expat.or.id/info/congklak.html)


UID 2017: Arts & Cultural Performance

Category : Kebudayaan

During the first session of the event, several performers will guide you to the ethnique and traditional Indonesian music. Here are their profiles:

1. SIN (Sekolah Indonesia Netherlands / The Indonesia School in Netherlands)
This school was established for Indonesian nationality kid in Netherlands. This school open for Indonesians who have a desire to give their children an education based on Indonesian value and curriculum. The goal of this school is providing access to a good, competitive, and relevant education with international standard but according to Indonesian value and culture. This school recently send the students to perform a traditional dance in several Indonesian events, including the upcoming UID 2017, to introduce and remind the beauty of Indonesian Culture through traditional dance.

2. Potatone
Potatone is a musical group consists of several Indonesian bachelor students who study in Netherland. Since they study and live far away from their home and have the same interest in music, they create this group. This group mainly perform Indonesian pop song in their colour. They add a classical element in their music such as adding the saxophones, to polish their musical taste. They already performed in several Indonesian Cultural events. Ready to feel the trendy Indonesian songs in the different colour, come and join us.

3. Indonesia Classic Song by Ardelia Padmasaswitri
Ardelia started her musical journey in the Netherlands in 2014, and along the way she met Henny Diemer, and received guidance from her. Later in 2014 she started her singing education in the Utrecht Conservatorium under the guidance of Dobrinka Yankova. Studying at Utrecht Conservatorium, Ardelia has a lot of contact with the Early Music. In her second year, she was trusted to sing an aria from Bach Cantata BWV 180 “Schmücke dich, o Liebe Seele”, which was conducted by Heiko ter Schegget. Currently, she is continuing her third year in Den Haag Conservatorium under the guidance of Sasja Hunnego. In this event, Ardelia will perform Classic Indonesian Song written by famous poets such as Mohtar Embut and Izmail Marzuki.