• 0

Press Release Angkringan Utrecht #1

Category : Academic Activities

Angkringan PPI Utrecht 1:

Mahasiswa dan Praktisi Pariwisata Indonesia di Utrecht Belanda berdiskusi tentang Positioning Pariwisata Indonesia

PPI Utrecht mengadakan kegiatan diskusi bertajuk “Angkringan Utrecht: Indonesia Worth It” pada hari Sabtu 30 Januari 2016 lalu dengan mengambil tema pengembangan pariwisata Indonesia dan Eropa. Kegiatan ini bertujuan untuk menggali lebih dalam tentang peluang dan tantangan pengembangan pariwisata di Indonesia dan prospeknya di pasar Eropa. Dalam diskusi tersebut, pariwisata Indonesia dikupas melalui dua perspektif yaitu akademik dan perspektif bisnis yang dimoderatori oleh Erlis Saputra, salah seorang pendiri Indonesian Tourism Watch.

Pembicara pertama Erda Rindrasih, PhD kandidat International Development Studies di Utrecht University, memaparkan tentang tren pariwisata di Indonesia dan pariwisata secara global. Dalam paparannya, Erda mengungkapkan bahwa bisnis pariwisata merupakan bisnis potensial yang terus berkembang. Menurut data UNWTO (World Tourism and Travel Council), pada tahun 2013 sektor pariwisata (travel and tourism) berkontribusi sebesar 9 persen dari total PDB global, 5 persen  investasi global, dan melingkupi 1 dari 11 pekerjaan yang ada di dunia. Bahkan, menurut paparan Erda, selama 10 tahun ke depan, sektor pariwisata diproyeksikan akan terus tumbuh dengan rata-rata sebesar 4.4 persen per tahun.

Di Indonesia sendiri, tren jumlah kunjungan wisata asing terus mengalami peningkatan sejak tahun 2000. Berdasarkan laporan kinerja Kementrian Pariwisata, pada tahun 2014 wisatawan mancanegara mencapai 9.44 juta orang dengan pemasukan total sebesar US $11.17 miliar. Namun, meski angka tersebut terbilang tinggi, Erda mengungkapkan bahwa daya saing pariwisata kita secara global masih cukup rendah. “Menurut survei Travel & Tourism Competitiveness Index, Indonesia berada di urutan ke-50 dunia dengan nilai indeks pariwisata sebesar 4.04. Cukup rendah jika dibandingkan dengan Singapura (posisi 11), Malaysia (posisi 25), dan Thailand (posisi 35),” ungkap Erda.

Erna Gustina, mahasiswa master di bidang Sustainable Business Utrecht University, sebagai pembicara kedua  menekankan pentingnya pengembangan pariwisata berkelanjutan di Indonesia. “Pariwisata harus memperhatikan dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan secara jangka panjang, jangan sampai merusak lingkungan dan budaya masyarakat setempat.” ujar Erna. Untuk mengembangkan pariwisata berkelanjutan, Erna menambahkan, dibutuhkan partisipasi dari semua stakeholder pariwisata seperti  pemerintah, pengusaha sebagai pelaku pariwisata, ahli, komunitas lokal, maupun turis sebagai penikmat wisata. Erna lebih lanjut menceritakan contoh model bisnis pariwisata berkelanjutan, seperti ecotourism, community-based tourism, dan pro-poor tourism.

Dalam sesi selanjutnya, tiga orang warga Indonesia yang menggeluti dunia usaha di bidang pariwisata diberikan kesempatan untuk berbicara mengenai usaha yang mereka jalani. Ketiga narasumber tersebut adalah Gustiandi (bisnis pariwisata Eropa), Afiel April (bisnis pariwisata Bandung), dan Tanwir (bisnis pariwisata Lombok).

Sebagai pengusaha yang menyediakan jasa paiwisata di Eropa untuk turis asal Indonesia, Gustiandi  mengungkapkan pentingnya pariwisata Indonesia untuk mencontoh pariwisata Eropa. Pengajuan visa yang mudah, aksesibilitas dan dukungan infrastruktur, dan keberagaman objek wisata menjadi keunggulan pariwisata Eropa yang harus dijadikan contoh. Namun, Gustiandi menambahkan, yang lebih penting lagi adalah bagaimana pemerintah dan pelaku wisata dapat menjual potensi daerahnya.

Sementara itu, pembicara berikutnya Afiel April mengungkapkan pentingnya pelibatan masyarakat lokal dalam bisnis pariwisata. Di Kota Bandung, Afiel mendirikan yayasan Senja Wisata yang bergerak di bidang pemberdayaan anak jalanan dan kalangan marjinal di Bandung didasari keinginan untuk memperbaiki kehidupan. “Anak-anak ini kami latih untuk menjadi pemandu wisata bagi turis asing, yang paling penting bagi mereka adalah pelatihan bahasa inggris.” Senada dengan Gustiandi, Afiel pun menekankan pentingnya dukungan pemerintah lokal khususnya kepada pelaku usaha pariwisata lokal. “Yang paling maju di Yogyakarta karena sudah ada Perda pariwisata yang cukup jelas mengatur sektor ini,” ungkap Afiel.

Pembicara terakhir, Tanwir, berbicara tentang kondisi pariwisata Lombok dan bagaimana perubahannya dari masa ke masa. Ia mengungkapkan bahwa dibandingkan Bali, Lombok baru dilirik sebagai target pariwisata terhitung baru, yaitu pada kisaran tahun 1970-an. Namun, bisnis pariwisata terus berkembang. Pada tahun 2016 ini pemerintah lokal menargetkan 3 juta turis datang ke Lombok. Permasalahan yang muncul di Lombok adalah pertentangan dengan masyarakat lokal yang notabene cukup religius. Ce Win, demikian sapaan akrab Tanwir, mengungkapkan bagaimana peran pemerintah daerah Lombok yang cukup signifikan dalam ‘mengakurkan’ bisnis pariwisata dengan masyarakat lokal.

Angkringan PPI Utrecht merupakan forum diskusi yang diselenggarakan oleh PPI Utrecht sebanyak 5 kali dalam satu tahun kepengurusan dengan menghadirkan pembicara dari kalangan akademisi maupun praktisi. Ketua PPI Utrecht Suarlan mengatakan bahwa Angkringan Utrecht  ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih pemikiran bagi Indonesia.

 

Divisi Kajian dan Pelatihan PPI Utrecht

Artikel ditulis oleh: M. Yorga Permana