• 0

Press Release Angkringan Utrecht #2

Category : Academic Activities

Angkringan PPI Utrecht 2:

Pelajar Indonesia di Utrecht Belanda berdiskusi tentang Peluang dan Tantangan Integrasi ASEAN

Mbak Patriani menjelaskan perbandingan MEA, EU, dan NAFTA

PPI Utrecht mengadakan kegiatan diskusi rutin Angkringan Utrecht bertajuk “Penguatan Integritas dan Perlindungan Hak Sosial Ekonomi: Agenda Fundamental di Era MEA” pada hari Sabtu 5 Maret 2016 lalu. Kegiatan ini bertujuan untuk menggali lebih dalam tentang peluang dan tantangan Indonesia dalam menghadapi integrasi ASEAN yang telah dimulai sejak awal tahun ini. Diskusi tersebut dimoderatori oleh Richo Wibowo, kandidat doktoral di jurusan hukum Universitas Utrecht.

Pembicara pertama Patriani Mulia, PhD kandidat di bidang Human Rights di Utrecht University memaparkan tentang peluang dan tantangan bergabungnya Indonesia dalam ASEAN Community. Dalam paparannya, Patriani mengingatkan bahwa integrasi ekonomi hanyalah satu dari tiga agenda besar integrasi ASEAN, di samping integrasi politik dan sosial-budaya. “Namun, perencanaan ASEAN di bidang ekonomi makro jauh lebih matang dibandingkan dengan perencanaan di bidang lain,” ujar Patriani. Dalam studinya, Patriani mengungkapkan bahwa salah satu masalah utama integrasi ASEAN adalah belum adanya penyetaraan hak asasi manusia untuk para pekerja di negara ASEAN. “Integrasi ASEAN memperbesar arus para pekerja yang bekerja keluar negaranya, tetapi belum ada aturan standard di ASEAN sendiri mengenai perlindungan terhadap pekerja. Salah satu yang penting adalah standard gaji minimum yang tidak diatur oleh semua negara ASEAN,” sambung Patriani.

Patriani juga mengingatkan agar integrasi ASEAN tidak hanya memberi manfaat untuk ekonomi makro saja. “Mungkin memang dengan integrasi ini ekonomi kita akan tumbuh, tetapi pertanyaannya untuk siapa? Siapa yang mendapatkan manfaat?” tanya Patriani. Jika kita belajar dari Meksiko dan NAFTA (perdagangan bebas Amerika Utara antara US, Meksiko, dan Kanada), memang benar PDB Meksiko meningkat pesat pasca bergabung dengan NAFTA. Namun, di sisi lain karena tidak adanya sistem perlindungan sosial yang baik, gaji buruh menurun dan kesenjangan semakin meningkat. Meksiko hanya menjadi pasar bagi tenaga kerja murah. Inilah yang dikhawatirkan oleh Patriani akan terjadi di Indonesia. “Oleh karena itu, pemerintah sekali lagi perlu mengharmonisasikan tujuan ASEAN dengan tujuan Indonesia sendiri. Integrasi ini harus memberi keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Manfaatnya harus bisa didapatkan oleh masyarakat lapisan bawah,” pungkas Patriani.

Pak Dadan sebagai salah satu narasumber Angkut #2

Suasana kegiatan Angkut #2

 

Dadan Sidqul Anwar, PhD kandidat di bidang Good Governance and Integrity Utrecht University sebagai pembicara kedua  lebih mengajak untuk berefleksi mengenai pentingnya penguatan integritas di sektor publik di Indonesia. “Dalam memenuhi kebutuhan masyarakatnya, negara tidak cukup membangun infrastruktur fisik, tetapi juga aspek non-fisik, salah satunya integritas,” ujar Dadan. Mengingat indeks persepsi korupsi Indonesia yang masih tertinggal dari Singapura, Thailand, dan Malaysia, Dadan menekankan bahwa penguatan integritas ini harus menjadi satu agenda yang mendesak. “Tanpa integritas, akan sulit bagi pemerintah untuk melaksanakan agenda pembangunan dan mensejahterakan masyarakat,” sambung Dadan.

Sebagai upaya penguatan integritas di sektor publik, Dadan mengungkapkan pentingnya peran kepemimpinan nasional. “Di sini peran presiden Jokowi cukup penting untuk memberikan keteladanan bagi pemerintahan secara keseluruhan dalam menjalankan integritas di ruang publik,” papar Dadan. Dengan adanya agenda penguatan integritas ini Dadan meyakini bahwa Indonesia akan bisa bersaing dan bahkan memimpin dalam integrasi ASEAN.

Angkringan Utrecht merupakan diskusi rutin yang diadakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia di Utrecht Belanda. Dalam forum ini, para pelajar Indonesia bertukar pikiran mengenai agenda-agenda bangsa yang cukup mendesak untuk dibahas.

 

Divisi Kajian dan Pelatihan PPI Utrecht

Artikel ditulis oleh: M. Yorga Permana