• 0

Press Release Angkringan Utrecht #5

Category : Academic Activities

“Belajar dari Pengalaman para Pendahulu”

Pada tanggal 29 Oktober 2016 acara Angkringan Utrecht (AngkUt) yang kelima telah dilaksanakan dengan dihadiri kurang lebih 40 peserta. Rangkaian acara AngkUt kelima ini dimulai dengan makan siang bersama, dilanjutkan dengan pembukaan oleh Ketua PPI Utrecht, saudara Suarlan, kemudian disambung dengan diskusi panel dan sesi tanya jawab. Acara AngkUt kali ini mengusung tema tentang “Sukses Studi dan Bertahan Hidup di Belanda”. Tema tersebut dianggap sesuai mengingat banyak mahasiswa baru yang datang pada tahun akademik di September 2016 ini, sehingga acara ini diharapkan mampu memberikan gambaran tentang kondisi studi di Belanda secara nyata dan juga tips dalam menjalani kehidupan akademis maupun non-akademis di Negeri Kincir Angin ini.

Bapak Bambang Hari Wibisono, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI, sebagai pembicara pertama menyampaikan materi mengenai “Memahami kembali tujuan sekolah ke luar negeri”. Beliau mendeskripsikan kondisi Indonesia zaman dulu dan sekarang dalam memfasilitasi pemuda untuk menimba ilmu di luar negeri. Beliau juga menyebutkan berbagai alasan juga manfaat sekolah di luar negeri. Salah satu diantaranya adalah untuk dapat menikmati fasilitas akademik yang lebih unggul dan pengalaman untuk berinteraksi dan bertukar ilmu dengan mahasiswa dari berbagai latar belakang kultur dan negara. Terlepas dari berbagai manfaat yang bisa diambil, beliau juga menyebutkan bahwa ada beberapa dampak dan fenomena yang bisa timbul, sehingga mahasiswa bisa mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Dampak tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. Lebih percaya diri vs. sombong
  2. Nilai gelar yang lebih membanggakan
  3. Merasa memiliki masa depan yang lebih baik
  4. Memiliki wawasan yang lebih luas
  5. Terpacu untuk menghadapi persaingan dunia kerja yang semakin kompetitif dan dunia usaha yang semakin mengglobal
  6. Kesiapan untuk pulang dan berkarya-membangun nusa dan bangsa
  7. Memberikan kontribusi bagi Indonesia tanpa harus pulang
  8. Khawatir kehilangan jejaring yang telah terbangun di Indonesia

Pembicara kedua adalah Ibu Ari Susanti, kandidat Ph.D dari Fakultas Geoscience, Utrecht University. Beliau berbagi cerita dan pengalaman pada saat menjalani program master di Enschede dan juga selama menjalani Ph.D di Utrecht ini. Beliau menyebutkan beberapa tipikal dan karakterisktik mahasiswa Indonesia yang belajar di Belanda secara umum. Beliau menjelaskan bahwa kebanyakan mahasiswa dari Indonesia adalah pemalu dan segan untuk bertanya kepada dosen apabila ada yang dirasa kurang mengerti di dalam kelas. Beliau juga menekankan bahwa mahasiswa tidak perlu merasa malu untuk bertanya, karena budaya akademis di sini adalah menghargai setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh mahasiswa. Beliau juga menyebutkan berbagai tips dan trik dalam bersosialisasi di lingkungan dalam kampus maupun di luar kampus.

Pembicara terakhir adalah Bapak Dikky Indrawan, kandidat Ph.D dari School of Social Sciences Bussiness Economics Group, Wageningen University. Beliau adalah mantan ‘Lurah’ LPDP kota Wageningen. Beliau menjelaskan tentang berbagai tantangan yang biasa dihadapi oleh mahasiswa Indonesia di Wageningen. Beliau menyebutkan berbagai gap yang muncul dalam kehidupan akademis mahasiswa. Gap-gap atau mismatch tersebut dapat ditemukan pada beberapa aspek diantaranya dalam:

  1. Mengenali karakter universitas
  2. Mempersiapkan diri sebagai mahasiswa master/PhD
  3. Memahami tujuan utama sekolah di luar negeri
  4. Membentuk logical thinking

Gap-gap tersebut dapat diatasi dengan membiasakan diri dengan kebiasaan dan tuntutan belajar yang berbeda jauh dengan di Indonesia dan memahami adanya perbedaan serta mampu menyesuaikan diri dengan budaya yang baru. Beliau juga memberikan contoh kasus yang biasa terjadi, yaitu mahasiswa menuliskan jawaban yang sama persis dengan materi yang diberikan oleh dosen dalam mengerjakan ujian yang menjurus pada hasil atau nilai yang kurang memuaskan. Hal ini yang dianggap sangat berbeda dengan budaya akademis di Indonesia. Di Indonesia, mahasiswa akan mendapat nilai yang bagus apabila ia dapat menuliskan jawaban yang sama persis dengan materi yang disampaikan oleh dosennya. Tetapi, di sini dosen mengharapkan mahasiswa agar bisa mengembangkan teori dasar yang diberikan dengan pola pikir dan dari perspektif mahasiswa sendiri. Beliau juga menekankan bagi para mahasiswa untuk tidak segan bertanya dan menjalin komunikasi dengan mahasiswa internasional lain.

Acara AngkUt kali ini dipandang sangat bermanfaat bagi mahasiswa baru maupun lama yang sedang menjalani studi di Belanda. Selain sebagai kesempatan untuk menjalin tali silaturrahmi sesama pelajar Indonesia di Belanda, acara ini membantu mahasiswa dengan memberikan gambaran mengenai kemungkinan-kemungkinan tantangan yang akan dihadapi dalam kehidupan akademis maupun non-akademis dan solusi-solusi untuk menghadapinya. “Acaranya sangat bermanfaat karena memberikan tips dan trik yang solutif terhadap permasalahan yang umum dihadapi khususnya oleh mahasiswa-mahasiswa yg baru memulai perkuliahan. Semoga acara seperti ini dapat rutin dilaksanakan sebagai wadah rekan-rekan untuk sharing permasalahan2 yg dihadapi selama perkuliahan dan hidup di Belanda” kata Yudha Rizky Nuari, mahasiswa master jurusan Drug Innovation, Utrecht University.

Artikel ditulis oleh: Cita Hanif Muslihah

PPI Utrecht