• 0

Angkringan Utrecht

Hoi Allemaal,

Pada tanggal 4 Maret yang lalu, PPIU mengadakan diskusi dan bincang santai mengenai internship dan work culture di Belanda. Diskusi ini diadakan di bawah payung kegiatan AngkUt (Angkringan Utrecht). AngkUt kali ini diisi oleh pembicara dari berbagai kalangan, baik dari akademia maupun professional. Dari sudut pandang professional, ada Mbak Meisyi (pengajar di Babel Institute) dan Mas Ahmy (Software Engineer di Maarktplaats), sedangkan dari sisi academia ada Widya yang merupakan alumni dari program Drugs Innovation, Utrecht University. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Atdikbud RI di Belanda, Bapak Bambang Hari Wibisono.

 photo DSC_0059_zpswi29wdvg.jpg

Kata sambutan dari Atdikbud RI di Belanda, Bapak Bambang Hari Wibisono

Setelah dibuka dengan sambutan dari Pak Hari yang menceritakan mengenai kultur kerja di Belanda, kegiatan pun dilanjutkan dengan cerita dari Mbak Meisyi tentang hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan saat mencari kerja/intern di Belanda, khususnya harus teliti waktu membaca kontrak kerja. Karena setelah tanda tangan kontrak, berarti kita sudah terikat dengan hukum dan harus patuh terhadap poin-poin yang ditulis dalam kontrak, makanya kita harus baca poin demi poin dengan teliti. Jangan sampai kita daftar untuk intern tapi malah dapat workload sama dengan pegawai. Oh iya, ternyata kalau kita intern kita bisa dibayar oleh perusahaan tempat kita intern, tapi ini ga wajib. Jadi kalau terima gaji ya syukur, tapi kalau gratis juga tetap harus disyukuri.

 photo DSC_0068_zpsqdg74q1b.jpg

Mbak Meisyi dari Babel Institute memberi penjelasan mengenai aturan kerja dan internship di Belanda

Kembali ke soal kontrak kerja, untuk magang-ers ada beberapa poin yang wajib diperhatikan waktu kita mau tandatangan kontrak. 1) Jangka waktu harus jelas, jangan sampai ada kata open einde (bisa berkelanjutan tanpa durasi jelas). 2) Fasilitas apa saja yang didapat.

Gimana untuk professional workers? Perlu dipastikan apa jenis kontrak kerja yang didapat, apakah on call workers, kontrak sementara, atau malah kontrak tetap (yang banyak diharapkan sama orang). Khusus untuk kontrak sementara, kalau diperpanjang sampai 2x dalam waktu 2 tahun tanpa putus nyambung, maka kalau diperpanjang untuk ketiga kalinya harus sudah dalam bentuk kontrak tetap. Selain jenis kontrak, pekerja juga harus memastikan fasilitas apa yang didapat dan bagaimana sistem jatah cuti di perusahaan.

Terus gimana kalau sudah tandatangan kontrak, kita sudah kerja sebaik mungkin, tapi perusahaan ngelanggar kontrak? Jangan takut, kita bisa hubungin SZW dan laporin soal pelanggaran kerja ini.

Kemudian sesi dijeda dengan makan siang supaya para peserta dan pengisi acara ga pingsan kelaparan. Pada sesi ramah tamah ini, panitia AngKut dibantu oleh tim katering Utrecht sudah menyiapkan bakwan, emping, kopi, teh, dan soto betawi sebagai pasokan pemadaman kelaparan kita.

 photo DSC_0080_zpswb6hxa9l.jpg

Soto betawi oleh tim katering Utrecht

Setelah sesi ramah tamah, acara pun dilanjutkan dengan cerita dari Widya tentang pengalaman internnya di Belanda, di Medicine Evaluation Board (MEB). Intern di MEB ini adalah bagian dari program master by research, dimana Widya ikut menyelesaikan kasus yang dihadapi oleh MEB sebagai bagian dari risetnya. Widya memilih untuk intern di Belanda selama kuliah karena lebih mudah untuk mengurus administrasinya dibandingkan dengan setelah lulus. Setelah lulus kita perlu mengurus working permit. Oh iya, alasan Widya memilih MEB karena ingin memahami regulasi obat di EU yang lebih baik.

Widya memberikan beberapa tips dalam interview perusahaan sebelum internship. Tips-tips tersebut adalah: 1) Persiapkan dan pelajari CV sebaik mungkin, baca dan ingat kembali pengalaman bekerja sebelumnya. 2) Pelajari sebaik mungkin mengenai perusahaan tujuan. 3) Email perusahaan tujuan dari jauh-jauh hari.
Widya termasuk staf intern yang beruntung loh. Karena di MEB ini, Widya dapat salary sebesar 550 Euro.

Kemudian acara ditutup dengan cerita mas Ahmy tentang pengalamannya dia dari zaman interview sampai bekerja sampai lebih dari 3 tahun di Belanda. Mas Ahmy mengambil program master nya di ITB (Indonesia) dan awalnya bekerja di startup yang banyak bekerja dengan klien di bidang pemerintahan. Kemudian pada suatu hari, mas Ahmy mendapat info mengenai perusahaan (Sense) yang sedang mencari engineer dari temannya dan memutuskan untuk mencoba mendaftar ke perusahaan tersebut.

 photo DSC_0102_zpsmdoxeewo.jpg

Sesi interaktif bersama Widya dan Ahmy

Sebelum interview, mas Ahmy belajar tentang produk perusahaan tersebut, kemudian mencoba membuat aplikasi sendiri berdasarkan software mereka dan memperlihatkannya ke perusahaan tersebut. Ternyata pada saat wawancara via Skype, perusahaan tersebut cocok dengan mas Ahmy dan memberi kontrak probation (uji coba) selama 6 bulan dan akhirnya diperpanjang.

Setelah sesi cerita pengalaman, mas Ahmy memberi bocoran cerita tentang kultur kerja di Belanda. Ternyata perusahaan kesusahan untuk cari intern, sampai biasanya ada bursa internship dan ternyata tidak semua perusahaan buka lowongan intern di web. Jadi kita perlu coba email langsung ke perusahaan. Lalu, selama di Belanda ternyata mas Ahmy ga pernah ditanya soal IPK, jadi coba saja apply jika menemukan perusahaan yang menarik.

Dari pengalaman, intern dan kerja di Belanda pasti ada masa trainingnya dan diberikan materi yang perlu dipelajari. Nanti akan ada supervisor yang datang dan memeriksa pekerjaan kita. Lalu untuk mahasiswa yang sedang mempersiapkan internship, mas Ahmy memberikan saran kalau perusahaan di Belanda biasanya melihat apakah orangnya enak untuk diskusi atau tidak. Jadi berusahalah untuk lebih outspoken.

 

Oleh: Moch Februarianto